YOGI BLOG 2008

TUGAS KONSEP UNIKOM

SISTEM TEKNOLOGI (MENGURANGI KEMACETAN DAN POLUSI)

Jakarta dengan daerah sekitarnya, Jabodetabek, mempunyai luas 6.850 km2, mempunyai masalah yang hampir sama dengan kota besar di negara berkembang lainnya, yaitu transportasi dan polusi udara. Sudah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan Pemda DKI untuk mengatasi masalah ini yang umumnya lebih bersifat pembangunan fisik transportasi semata. Tulisan ini menawarkan sebuah solusi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk mengurangi mobilitas penduduk, khususnya untuk pelajar, pekerja, dan ibu rumah tangga.

urbanisasi, transportasi, kemacetan, polusi udara, teknologi informasi, Jakarta

1. Pendahuluan

Jakarta dengan luas 655.7 km2, berpenduduk sebanyak 8,36 Juta orang pada tahun 2000, sehingga kerapatan penduduk Jakarta adalah 12.756 orang/km2, yang kurang lebih sebanding dengan kota besar di dunia yaitu Tokyo (13.333 orang/km2), dan yang menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota terpadat di dunia. Tidak lengkap rasanya, membicarakan Jakarta tanpa mengikutsertakan Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi yang mempunyai wilayah sebesar 5.924 km2 dengan penduduk 12,6 Juta orang sehingga total luas Jabodetabek menjadi 6.580 km2 dengan total penduduk sebanyak 20,964 orang [7], peringkat kedua untuk kota besar di Asia (Gb.1).

Gb.1. Populasi Kota Besar di Asia Tahun 2000

2. Permasalahan

2.1. Masalah Fasilitas Transportasi

Jakarta telah menjadi sebuah kota metropolitan yang menghadapi masalah transportasi yang sangat parah. Transportasi umum di Jakarta lebih tergantung kepada jasa bus, baik besar maupun kecil, yang rata-rata berumur sudah tua dengan pelayanan yang sangat jauh dari yang diharapkan, baik kenyamanan maupun keamanan. Bus berhenti untuk mengambil dan menurunkan penumpang seenaknya karena tidak ada tempat perhentian (halte) yang jelas untuk itu, kalaupun ada, sudah berubah fungsi untuk hal lain.

Pelayanan transportasi yang ada sekarang ini sangatlah tidak layak, baik dari segi fasilitas pelayanan dan keamanan, yang mengakibatkan semakin meningkatnya pemilik kendaraan pribadi, baik roda dua atau sepeda motor maupun roda empat atau mobil pribadi. Untuk kepemilikan kendaraan roda empat, berdasarkann penelitian yang dilakukan oleh JICA dan BAPPENAS, diketahui bahwa rata-rata kepemilikan mobil per 100 penduduk adalah 20.7 dan rata-rata kepemilikan mobil per kepemilikan rumah adalah 1.2, yang setara dan bahkan melebihi negara maju. Dijelaskan pula bahwa, ada 28.8% penduduk yang tidak menggunakan kendaraan bermotor dan 78.2% menggunakan kendaraan bermotor, dengan komposisi, 52,7% menggunakan bus, 30.8% menggunakan mobil pribadi, 14.2% menggunakan sepeda motor, dan hanya 2.0% saja yang menggunakan kereta api (Gb.2).

Gb. 2.Komposisi Jenis Transportasi Kendaraan Bermootor

2.2. Masalah Konsumsi Energi

Dengan komposisi jenis transportasi kendaraan bermotor seperti data di atas, maka penumpang mobil pribadi menduduki peringkat paling atas atau paling boros dalam konsumsi energi, 3.015 kJ/penumpang-km, disusul oleh bus menengah, bus Kecil, bus besar, dan kereta api yaitu sebesar 504, 481, 383, 129 kJ/penumpang-km (Gb.3).

Gb.3. Konsumsi Energy Beberapa Jensi Alat Transportasi (kJ = kilojoule)

2.3. Masalah Polusi Udara

Untuk masalah kota terpolusi di dunia, Jakarta sudah menduduki peringkat ketiga menurut data yang dikeluarkan oleh WHO. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh JICA dan BAPEDAL tahun tahun 1997, diketahui bahwa kendaraan bermotor adalah penyumbang emisi CO dan SO2 terbesar di Jakarta, yang mencemari udara sebesar 599.180 dan 411.140 Ton/tahun, jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan utility/rumah tangga, industri, dan limbah padat (Gb.4).

Gb.4. Jumlah Kendaraan Bermotor Terdaftar

2.4. Masalah Jauhnya Jarak Tempuh

Perkembangan Jakarta, menuntut kebutuhan perumahan untuk semua kalangan yang yang hanya dapat disediakan oleh kota sekitarnya (Botabek), yang mengakibatkan semakin jauhnya jarak dari rumah ke tempat tujuan lainnya. Sebagai perbandingan pada tahun 1985 dan 2000, untuk ke tempat kerja, 6.7 km pada tahun 1985 meningkat menjadi 9.6 km pada tahun 2000. Berangkat ke sekolahpun juga terjadi peningkatan dari 2.7 km pada 1985 menjadi 5.5 km pada tahun 2000. Begitu juga dengan pergi berbelanja, terjadi peningkatan dari 2.6 km pada tahun 1985 menjadi 4.8 km pada tahun 2000 (Gb.5).

Gb.5. Perubahan Jarak Perjalanan

Apa yang seharusnya dilakukan oleh Jakarta untuk menghadapi masalah transportasi (fasilitas transportasi, konsumsi energi, dan polusi udara, jarak tempuh) seperti yang sudah dijelaskan di atas?

3. Pembahasan

Kalau mau jujur, penyebab utama ini semua adalah urbanisasi yang tidak terkendali, yang akhirnya menimbulkan masalah transportasi dan juga perumahan. Dengan semakin menjauhnya rumah yang umumnya di pinggiran Jakarta (Botabek) dari lokasi aktifitas yang umumnya di Jakarta, sehingga memicu peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor) yang semakin memperparah situasi di Jakarta. Sampai kapanpun, kalau masalah urbanisasi yang tidak terkendali ini tidak bisa diselesaikan, maka pembangunan fisik transpotasi yang ditujukan untuk mengurangi kemacetan akan sia-sia belaka alias tidak akan membuahkan hasil yang maksimal, walau sudah menghabiskan dana dan waktu yang tidak sedikit jumlahnya. Masalah urbanisasi adalah masalah yang terkait erat dengan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia dan tulisan ini lebih menitikberatkan pembahasan terhadap masalah transportasi di Jakarta.

Sebenarnya, sudah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan ini, tetapi semuanya lebih cenderung berpihak kepada pemilik kendaraan bermotor khususnya pemilik mobil pribadi, seperti pembangunan fisik jalan toll, jalan layang dan underpass. Belum ada terobosan yang mengarah pada pemanfaatan teknologi informasi dan manajemen operasional yang mengurangi masalah transportasi ini.

3.1. Pemanfaatan Teknologi Informasi

Dari survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga penelitian, didapat data bahwa pelajar dan pekerja lebih banyak melakukan perjalanan yaitu 2.32 dan 2.28 perjalanan per orang per hari, disusul hampir setengahnya oleh pensiunan dan ibu rumah tangga. Perjalanan yang dilakukan oleh pelajar adalah dari rumah – sekolah begitu sebaliknya, untuk pekerja adalah dari rumah ke tempat kerja dan begitu juga sebaliknya, untuk ibu rumah tangga adalah dari rumah – tempat lain (sekolah, belanja, dll) dan sebaliknya (Gb.6).

Gb.6. Tingkat Perjalanan Sesuai Tujuan dan Status

Dengan mempelajari grafik di atas, fokus kepada pelajar, pekerja, dan ibu rumah tangga, sebenarnya ada peluang untuk mengurangi tingkat perjalanan mereka hanya dengan menerapkan kemajuan teknologi informasi yang sudah ada saat ini, caranya adalah sebagai berikut:

Pelajar: Khususnya untuk mahasiswa, sudah saatnya kampus perguruan tinggi untuk mengkombinasikan sistem perkuliahan tatap muka secara fisik dengan sistem perkuliahan secara online. Jika dilakukan secara kombinasi beberapa hari dalam seminggu, maka akan lebih efektif jika dilakukan sistem perkuliahan online pada hari Senin, karena hari Senin adalah hari puncaknya kemacetan di Jakarta. Konsep ini dapat dibahas secara internal di masing-masing kampus sesuai dengan kesiapan infrastruktur teknologi informasi yanga ada. Satu hal yang perlu juga digaris bawahi bahwa sistem ini diusahakan tidak akan mengurangi kesempatan dari mahasiswa sebagai calon intelektual dalam berkomunikasi dan berorganisasi sesama mereka. Untuk langkah awal, bisa dimulai dengan kombinasi sistem online dan tatap muka secara fisik.

Pekerja: Sudah saatnya untuk mulai memikirkan konsep kerja yang berbasis teknologi informasi yang tidak mengharuskan pekerja untuk datang ke tempat kerja secara fisik, tetapi pekerjaan dapat dilakukan di rumah dengan tetap melakukan komunikasi secara online sesama komunitas perusahaan tersebut. Memang tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dengan sistem online seperti ini, tetapi beberapa jenis pekerjaan tertentu yang sifatnya administrasi, pengolahan data, atau pekerjaan lain yang tanpa banyak berinteraksi dengan orang lain mempunyai potensi untuk melakukan pekerjaannya di rumah. Konsep sistem kerja seperti ini dapat dipikirkan lebih lanjut sesuai dengan jenis usaha dari perusahaan tersebut. Biaya yang akan dikeluarkan untuk menyiapkan sistem ini di sebuah perusahaan akan bisa dieliminasi seperti, mengurangi tunjangan transportasi, mengurangi luas sewa perkantoran, dan berbagai biaya lainnya. Keberhasilan sistem ini bergantung kepada kepercayaan pimpinan yang diberikan kepada sang karyawan dan pertanggung jawaban karyawan terhadap kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan.

Ibu Rumah Tangga: Dengan kemajuan teknologi informasi, seperti internet, maka sudah saatnya sistem belanja secara online dikembangkan. Dalam hal ini, beberapa pasar swalayan dan toko lainnya seperti toko elektronik, toko buku, dan lainnya mempunyai kesempatan untuk mengembangkan sistem yang tidak mengharuskan para ibu rumah tangga (konsumen) untuk datang secara fisik dari tempat yang jauh untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

3.2. Dukungan Pemerintah

Perlu adanya dukungan dari pemerintah untuk berjalannya sistem ini. Dukungan yang yang dimaksud adalah dalam bentuk insentif atau kemudahan lainnya, seperti insentif pajak untuk perusahaan, pengurangan pajak kendaraan bermotor untuk yang punya kendaraan, dan lain sebagainya, serta aktif membantu kampanye sistem ini sehingga banyak yang memulai.

4. Kesimpulan

Permasalahan transportasi di Jakarta sudah saatnya untuk diatasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, seperti bekerja secara online di rumah bagi pekerja, sistem perkuliahan yang dikombinasi secara online bagi mahasiswa, dan sistem berbelanja secara online bagi ibu rumah tangga. Tujuannya adalah mengurangi tingkat mobilitas dari mereka tanpa mengganggu atau mengurangi arti dari aktifitas mereka tersebut. Keberhasilan dari sistem ini tergantung dari tingkat kepercayaan dan kesiapan masing-masing pihak terkait, adanya saling kepercayaan, dan juga adanya dukungan dan dorongan dari pihak pemerintah. Bagaimana implementasinya secara lebih lengkap dan jelas, sebaiknya dibahas sesuai dengan bidang atau cakupan masing-masing. Perlu diingat bahwa, solusi yang ditawarkan di sini hanyalah untuk memecahkan sebagian dari masalah transportasi yang ada.

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: